| Register
  • Connect to:

Kompleksitas Tambang Freeport; Dari Lokasi, Cuaca, sampai Gangguan Keamanan

TEMBAGAPURA- Tak banyak yang mampu mengakses tambang Grasberg dan underground mine Freeport Indonesia secara langsung di Papua. Wajar jika banyak yang tak tahu soal kompleksitas tambang tersebut. Selain karena medan di Grasberg dan underground mine yang sulit, gangguan keamanan pun sampai saat ini masih menjadi ancaman bagi karyawan Freeport.

Riza Pratama Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia menceritakan, tambang emas Grasberg yang saat ini dalam tahap penutupan memiliki lokasi yang sangat ekstrem karena berada di 4.200 mdpl dengan curah hujan tiga juta kubik per tahun.

“Cuma ada dua, hujan dan hujan lebat. Tidak ada tambang di dunia yang memiliki dua cuaca seperti Grasberg,” kata dia saat menemani rombongan Menteri ESDM Ignasius Jonan melihat tambang Grasberg, Jumat (4/4). Alhasil, kemampuan sopir haul truck diuji karena menghadapi jalan yang licin setiap kali hujan turun.

Selain itu juga, sopir haul truck yang mengangkut batuan mineral dari dalam tambang Grasberg harus memiliki lisensi khusus, bahkan untuk menjaga keselamatan kerja haul truck itu memiliki sensor mata di depan sopir agar jika mengantuk, bangku akan menghentak dan mengirim sinyal ke kantor operasional. Semua personal di dalam haul truck terpantau dari ruang operasional di Tembagapura.

Lokasi tambang Grasberg memang tak mudah dijangkau, selain membangun jalan menuju Grasberg yang jaraknya sekitar 80 kilometer dari dataran rendah di Kabupaten Mimika ini atau memakan waktu dua jam perjalanan, Freeport juga membangun fasilitas transportasi Tram atau bisa disebut cable car yang dioperasikan sejak tahun 1990, dengan kapasitas 100 orang.

Terminal cable car yang dibangun oleh perusahaan Swiss itu berada di ketinggian 2.836,25 mdpl sehingga untuk menuju terminal cable car harus menggunakan bus atau chopper dengan mendarat di Kota Tembagapura. Cable car ini sedianya bisa menjangkau sampai ketinggian hingga 4.000 mdpl. Sedangkan Grasberg sendiri berada di 4.200 mdpl dengan cuaca dingin bisa 7 derajat celcius.

Dari data Freeport saat ini, kedalaman lubang tambang Grasberg sepanjang 1,3 kilometer (km) dengan luas diameter 3,5 km. Namun jika menempuh lubang tambang dengan fasilitas jalan menggunakan haul truck jarak dari pengambilan batuan mineral di bawah sampai ke stockpile di atas bisa mencapai 25 kilometer.

Sedangkan waktu yang ditempuh haul truck bisa mencapai 70 menit untuk sampai ke stockpile. Jarak satu haul truck satu dengan haul truck lainnya harus mencapai 50 meter agar tidak terjadi tabrakan. Sementara itu, ada 4.500 pekerja yang setiap hari berada di ketinggian 4.200 mdpl tambang Grasberg.

Selain medan yang berat dan curah hujan yang sering turun, Riza juga mengatakan, gangguan kemanan masih menjadi momok yang menakutkan sejak adanya penembakan yang menewaskan karyawannya saat turun dari lokasi tambang tahun 2002. Dari kejadian itu, perusahaan kini menggunakan tingkat keamanan super tinggi. “Kami pakai bus anti peluru sekarang, dan dikawal,” ujarnya. Untuk mobil kecil, penumpang diwajibkan memakai jaket anti peluru.

Perusahaan tidak akan menurunkan standar keamanan demi keselamatan karyawan dan para tamu yang datang ke Freeport. “Perusahaan tentu harus menyewa keamanan demi keselamatan,” imbuh dia.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan, dirinya baru pertama kali ke tambang Grasberg. “Tambang ini menarik, tambang yang kompleksitasnya tinggi,” kata Jonan. Untuk itu, pemerintah memberikan masa perpanjangan operasi sampai 20 tahun kepada Freeport sebagai operator yaitu sampai 2041 agar tambang Freeport nantinya bisa dikelola oleh anak-anak Indonesia.

“Kita ini bisa kerja, bisa pemahaman teknik. Orang asingnya juga gak banyak. Tetapi menjaga konsistensi, operatioanal safety dan kesehatan kerja, menjaga terowongan tambang, kereta gantung atau Tram, itu tantangannya besar,” imbuhnya.

Jonan mengatakan, perusahaan Indonesia untuk memberdayakan manusia memang bisa, tetapi budaya konsistensi kita masih harus terus dibangun.”Kalau teori pasti bisa. Banyak profesor, betul-betul mengoperasikan ini gak gampang,” kata dia.

Tony Wenas Presiden Direktur Freeport Indonesia menjelaskan, bahwa sejauh ini memang roadmap dari operasional dan kesehatan kerja dan keselamatan kerja masih menggunakan Freeport McMoran. “Kami di sini ada transfer knowledge dan kaderisasi untuk dua jabatan itu,” ujarnya.

 

Sumber: https://bit.ly/2LveCZr

SHARE: